Home » » Koreksi Terhadap Ibadah Shoum Kita

Koreksi Terhadap Ibadah Shoum Kita

Written By detik herb on Senin, 30 Juni 2014 | 05.41


romadhon
Dalam Al-Quran, Nabi Muhammad SAW disebutkan sebagai Nabi terakhir. Al-Quran berfirman sebagai berikut:
"Muhammad itu sekali-kali bukanlah ayah seorang laki-laki di antara kamu, melainkan ia adalah utusan Allah dan penutup sekalian Nabi (khatamun nabiyyin). Dan Allah senantiasa mengetahui segala sesuatu (QS 33:40)."

Sebagai nabi terakhir, Rasullullah merupakan uswatun hasanah (contoh teladan yang baik bagi umatnya) sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran:
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah (QS 33:21)."
Agar kita menjadi umat Islam yang baik, maka dalam menjalankan ibadah puasa pun kita harus meneladani cara Rasulullah SAW berpuasa, yang pada garis besarnya dapat kita bagi dalam pasal-pasal berikut.
Perbuatan Yang Menyempurnakan Ibadah Puasa Langkah-langkah yang dikerjakan Rasulullah dalam menyikapi ibadah puasa, antara lain:
1.         Memantapkan Niat
Nabi SAW bersabda:
"Barangsiapa yang tidak menetapkan akan berpuasa sebelum fajar, maka tiada sah puasanya".
Hadis di atas diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah.
Darukutni meriwayatkannya dengan redaksi yang berbeda: "Tidak sah puasanya bagi orang yang tidak menetapkannya dari malam harinya".
2.         Melaksanakan Makan Sahur
Dari Anas bin Malik r.a. ia berkata:
"Telah bersabda Rasulullah SAW.,Sahurlah kalian, maka sesungguhnya dalam sahur itu ada berkahnya"(HR Bukhari, Muslim dari Anas bin Malik r.a.).
Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani, yang dimaksud dengan berkah (barakah) ialah ganjaran dan pahala. Dikatakan sahur itu mengandung barakah, karena sahur menguatkan dan menambah semangat dalam berpuasa serta dapat membantu meringankan beratnya. Slanjutnya Ibnu Hajar menambahkan:"Yang jelas sahur itu merupakan suatu perbuatan yang mengikuti sunnah, berbeda dengan perbuatan Ahli Kitab,memelihara terhadap ibadah, menambah semangat, menolak pengaruh buruk yang itimbulkan oleh rasa lapar, atau merupakan kesempatan bersedekah kepada rang lain dengan mengundangnya makan sahur bersama, dan juga dapat ilanjutkan dengan berzikir atau berdoa, karena waktu sahur adalah waktu yang mustajab untuk berdoa.”
Dan Allah telah menjelaskan dalam Al-Quran tentang sifat-sifat orang yang
bertakwa, firman-Nya:
(yaitu) orang-orang yang berdoa :"Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah berimanmaka ampunilah segala dosa kami, dan peliharalah kami dari siksa neraka. (Yaitu) orang-orang sabar, yang benar, yang tunduk (taat), dan yang membelanjakan hartanya (di jalan Allah), serta beristighfar di waktu sahur" (QS 3:1-17).

3.         Imsak Rasulullah
Telah bersabda Rasulullah SAW:
"Apabila salah seorang di antara kalian mendengar azan subuh padahal bejana masih berada di tangannya, maka janganlah ia meletakkan (bejana itu) sampai ia menyelesaikan kebutuhannya itu "(Hr Abu Dawud, Ibnu Jarir, Abu Muhammad
Al Jauhari, Al Hakim, Baihaqi dan Ahmad dari Abu Hurairah).
Hadis di atas menegaskan bahwa bila seseorang yang sedang sahur mendengar azan subuh, maka ia dibolehkan meneruskan sahurnya. Hal ini tentunya ditujukan untuk orang yang tidak sengaja menunggu atau mengetahui bahwa azan subuh segera akan tiba. Ini diperkuat oleh hadis yang diriwayatkan oleh Husain bin waqid, dari Abu Ghalib, dan dari Abu Umamah. Ia berkata: Telah diqamati shalat, padahal bejana masih berada di tangan Umar, maka Umar berkata:"Bolehkah aku minum wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Tentu" Kemudian Umar pun meminumnya (HR Ibnu Jarir)
Dan juga telah diriwayatkan dari Ibnu Luhaiah, dari Abu Zubair, ia berkata:
"Aku pernah bertanya kepada Jabir tentang seseorang yang bermaksud untuk puasa, sementara bejana di tangannya siap untuk diminum, kemudian ia mendengar azan? Jabir menjawab:Sesungguhnya kami akan menceritakan bahwasanya Nabi SAW telah bersabda:"Hendaklah oa minum darinya"(HR Ahmad).
Ishaq juga telah meriwayatkan dari Abdillah bin Maqil, dari Bilal, ia
berkata:
"Aku datang menemui Nabi SAW, untuk memebritahukan shalat fajar kepada beliau, dan beliau bermaksud untuk berpuasa, maka beliau meminjam bejana, lalu beliau minum, kemudian beliau memberikannya padaku maka aku pun minum pula. Lalu kami keluar bersama-sama untuk shalat (HR Ibn Jarir)"
Dan dalam hadis yang lain, yang diriwayatkan oleh Qais bin Rabi, dari
Zuhair bin Abi Tsabit Al-Ama, dari Tamim bin Iyadh, dari Ibnu Umar, ia
berkata:
" Adalah Alqamah bin Alatsah berada di samping Rasulullah SAW. Kemudian datanglah Bilal untuk memberitahu waktu shalat kepada Nabi, maka Rasulullah SAW pun bersabda:Perlahan-lahan hai Bilal! Aqamah sedang sahur, dan ia sahur dengan kepala!"(HR Tabhrani)

4.         Mempercepat Berbuka Apabila Telah Tiba Waktunya
Sahl bin Saad berkata:
Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda,"Manusia tidak henti-hentinya mendapat kebaikan selama mereka memeprcepat berbuka puasa"(HR Bukhari dan Muslim) Abu Hurairah r.a. berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: Telah berfirman Allah Yang Mahamulia dan Maha Agung:
"Hamba-hamba Ku yang lebih aku cintai ialah mereka yang paling segera berbukanya"(HR Tirmidzi dari Abu Hurairah).
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda: 
"Sesungguhnya kami – golongan para Nabi - diperintahkan untuk menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur, dan supaya kami meletakkan tangan kanan kami di atas tangan kiri kami di dalam shalat" (HR Ibnu Hibban dan Dhiya).
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dilukiskan sebab dan rahasia
menyegerakan puasa:

"Agama akan senantiasa tampak syiarnya dengan nyata selama orang Islam berbuka puasa dengan segera (tepat pada waktunya), sebab orang-orang Yahudi dan Nasrani melambatkannya " (HR Abu Daud yang bersumber dari Abu Hurairah).

Pada waktu berbuka puasa dianjurkan untuk membaca doa sebagai berikut:
"Telah hilang dahaga, dan telah basah (segar) urat, dan telah tetap
ganjaran. Insya Allah" ( HR Abu Daud, nasai, dan Hakim dari Ibnu Umar r.a.).
Dalam hadis lain disebutkan bahwa apabila Rasulullah berbuka, beliau berdoa:
"Ya Allah, bagi-Mulah puasa kami, dan atas rezeki-Mu lah kami berbuka, maka terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (Hr Ibnu Sunni dan Thabrani).
Berbuka yang lebih baik ialah berbuka dengan buah-buahan manis seperti
kurma, pisang, mangga, rambutan, dan sebagainya. Dalam sebuah hadis
disebutkan. Dari Sulaiman bin Amir Ad-Dhabbi r.a. dari Nabi SAW, beliau bersabda 
,"Apabila seseorang di antara kamu berbuka puasa, berbukalah dengan kurma. Apabila tidak ada, berbukalah dengan air, karena air itu suci" (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad).


5.         Memperbanyak Membaca Al Quran

Rasulullah SAW bersabda :
"Orang-orang yang berkumpul di masjid dan membaca Al Quran, maka kepada mereka Allah akan menurunkan ketenangan batin dan limpahan rahmat (HR Muslim).
Sebagian orang mengartikan tadarus dengan membaca Al Quran secara patungan (secara bergiliran). Kendatipun ada manfaatnya seperti yang disebutkan dalam hadis:
"Barangsiapa membaca satu huruf Al Quran, maka pahala untuknya sepuluh kali lipat kebaikan "(HR Tirmidzi).
Namun, membaca dalam konteks hadis di atas, tidak perlu diartikan secara
harfiah. Ketenangan batin dan limpahan rahmat akan mungkin lebih bisa
dicapai bila tadarusan diartikan dengan mempelajari, menelaah, dan menikmati Al Quran. Sudah saatnya kita tidak lagi mengandalkan "pengaruh psikologi magnetis" dalam membaca Al Quran (tanpa mengetahui maknanya). Karena bagi kita sudah saatnya untuk mendapatkan arti limpahan rahmat tersebut dari telaah kandungan isi Al Quran.
Sekalipun demikian, memang benar untuk lapisan masyarakat tertentu, suasana yang dipantulkan oleh malam Ramadhan dengan tarawih dan tadarusannya amat dirasakan sekali manfaatnya dalam menciptakan ketenangan batin.

6.         Memperbanyak Sedekah
Sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramadhan (Hr Tirmidzi) Bersedekah bukan hanya memberi uang , tetapi termasuk di dalamnya memberi pertolongan , mengajak berbuka puasa fakir miskin, memberi perhatian, bahkan memberi seulas senyum pun sudah termasuk suatu sedekah. Dapat dibayangkan jika konsep "memberi" (secara luas) ini diterapkan secara maksimal, selama Ramadhan, akan luar biasa pengaruhnya pada pribadi kita. Sikap kikir menyingkir, sikap ketergantungan menghilang. Dengan memberi sedekah setahap demi setahap harga diri akan meningkat. Karena, sesungguhnya ketika kita memberi, seseorang akan memperoleh. Dengan demikian, dalam konsep memberi terkandung esensi cinta-kasih.

7.         Membayar Zakat Fitrah
Zakat fitrah (zakatul fitri) disebut juga Shadaqarul Fitri, yaitu zakat atau
sedekah yang dihubungkan dengan Idul Fitri. Pada saat itu, tiap-tiap orang
Islam harus membayar zakat berupa bahan makanan yang jumlahnya telah
ditentukan (2,5 kg), baik berupa gandum, juwawut, beras, atau apa saja yang
menjadi bahan makanan pokok daerah setempat, dan dihitung menurut jumlah
keluarga, termasuk orang tua, anak-anak, lelaki dan perempuan (HR Bukhari).
Jumlah ini harus dikumpulkan oleh masyarakat Islam , lalu dibagikan kepada
orang-orang yang berhak menerimanya.
Aturan pembagian zakat fitrah itu sebagai berikut. Zakat itu harus diberikan
kepada yang berhak sebelum shalat Ied, dan ini merupakan kewajiban bagi
orang yang mampu. Sebagaimana diuraikan dalam hadis, zakat fitrah harus
diorganisasikan seperti zakat mal, sebagai berikut:

" Mereka memberikan sedekah (fitrah) untuk dikumpulkan, dan tidak untuk dibagi-bagikan kepada para pengemis"(HR Bukhari).
Menurut hadis lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW memberi tugas kepadanya untuk mengumpulkan zakat bulan Ramadhan (Hr Bukhari).
Adab Puasa: Memelihara Lidah dari Semua Kekejian dan Kejahatan
Orang yang puasa wajib meninggalkan akhlak yang buruk. Segala tingkah
lakunya haruslah merupakan cerminan dari budi yang luhur. Ia wajib menjaga
diri, jangan sampai melakukan ghibah (mempergunjingkan diri orang lain,
gosip), atau melakukan hal-hal yang tiada berguna, sehingga Allah berkenan
menerima puasanya.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.:
Apabila seorang dari kamu sekalian berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan berteriak. Bila dicela orang lain atau dimusuhi, maka katakanlah:" Aku ini sungguh sedang puasa ". Demi Allah yang menggenggam jiwa Muhammad, sesungguhnya bau mulut orang yang seddang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi. Dan bagi orang yang berpuasa itu ada dua kegembiraan; Ketika berbuka, ia bersuka cita dengan datangnya saat berbuka, dan ketika bertemu dengan Tuhannya ia brsuka cita dengan pahala puasanya.
Dalam hadis lain disebutkan: Rasulullah SAW bersabda:
" Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, dan perbuatan dusta dan bodoh, maka Allah tidak membutuhkan lapar dan dahaga mereka" (HR Bukhari dan Abu Dawud).
Mengenai hadis yang terakhir, AlAllamah Asy-Syaukani berkata:"Menurut Ibnu Bathal, maksud hadis di atas bukan berarti orang itu disuruh meninggalkan puasa, tetapi merupakan peringatan agar jangan berkata bohong atau melakukan perbuatan yang memuat dusta. Sedangkan menurut Ibnu Arabi, maksud hadis ini ialah bahwa puasa seperti itu tidak berpahala. Dan berdasarkan hadis ini, Ibnu arabi mengatakan pula bahwa perbuatan-perbuatan buruk tersebut di atas dapat mengurangi pahala puasa
Kasus-kasus Khusus yang Terjadi pada Masa Rasulullah

1.         Orang yang berpuasa pada-pagi dalam keadaan junub
Dari Aisyah dan Ummu Salamah:"Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah menjumpai waktu fajar dalam keadaan junub - setelah bersebadan dengan istrinya dan belum menjadi wajib - kemudian beliau mandi dan berpuasa" (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Aisyah r.a. adalah Nabi SAW menjumpai waktu fajar dalam bulan Ramadhan dalam keadaan junub, bukan karena mimpi, lalu beliau mandi dan berpuasa (Hr Bukhari)
Dari Aisyah r.a. ia berkata:"Aku menyaksikan Rasulullah SAW, bahwasanya
beliau pagi-pagi mandi berada dalam keadaan junub karena berjima, bukan karena mimpi, kemudian beliau berpuasa pada hari itu"(HR Bukhari)
Dari hadis-hadis di atas dapat disimpulkan, bahwa orang yang berada dalam
kedaan junub, kemudian makan sahur untuk puasa, maka orang yang junub itu
sah puasanya. Meskipun ia harus tetap mandi wajib untuk melaksanakan shalat
subuh.

2.         Mencium Istri
Orang yang berpuasa boleh mencium istrinya. 
Dari Aisyah r.a. ia berkata: "Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah mencium
sebagian istri-istrinya, padahal beliau sedang berpuasa". Lalu Aisyah tertawa setelah menceritakan hadis ini (HR Bukhari).
Dari Ummu Salamah r.a. bahwa Nabi SAW pernah mencium(nya) dalam kedaan
berpuasa (HR Bukhari dan Muslim).
Dan dari Aisyah r.a. ia berkata : Rasulullah SAW pernah mencium (aku) dan
mencumbu (mubasyarah) dalam keadaan berpuasa. Hanya beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan hajatnya (HR Jamaah selain An-Nasai).
Dari hadis di atas, kita mengetahui bahwa orang yang berpuasa boleh saja
menyentuh dan mencium istrinya, apabila ia dapat menahan syahwatnya. Tetapi kalau dia khawatir dirinya kemudian melakukan persetubuhan atau mengeluarkan mani dengan hanya menyentuh, maka hal itu tidak boleh dilakuan.
Menurut Said bin Al-Musayib, orang yang berpuasa tidak boleh mencium dan
menyentuh , baik ia merasa khawatir maupun tidak. Karena, menurut riwayat
dari Ibnu Abbas, bahwasanya ada seorang pemuda menemui Ibnu Abbas, lalu
bertanya kepadanya, "Bolehkah saya mencium selagi berpuasa?" Jawab Ibnu
Abbas, "Tidak".
Kemudian, datang pula kepada Ibnu Abbas seorang tua lalu berkata:"Bolehkan
saya mencium selagi berpuasa?" Jawab Ibnu Abbas:"Ya". Maka pemuda tadi
kembali lagi kepada Ibnu Abbas, lalau berkata kepadanya:"Kenapa tuan
halalkan untuknya apa yang tuan haramkan atas diriku, padahal kita satu
agama?" Jawab Ibnu Abbas:"Karena dia sudah tua, dan bisa menguasai hajatnya, sedang kamu masih muda, kamu tak mampu menguasai hajatmu", yakni anggotamu dan auratmu (Raudhatul Ulama).

3.         Mubasyarah Orang yang Berpuasa
Dari Aisyah, ia berkata:"Adalah Nabi SAW mencium padahal beliau puasa, dan bermubasyarah (bercumbu) padahal beliau puasa, tetapi beliau adalah orang yang paling dapat menahan nafsunya dari antara kalian" (HR Bukhari dan Muslim).

4.         Orang yang Puasa kemudian Makan dan Minum karena Lupa
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW beliau bersabda:"Apabila ia (orang yang berpuasa) lupa, kemudian ia makan dan minum, maka hendaklah ia
menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah-lah yang telah memberi makan dan minum kepadanya" (HR Bukhari dan Muslim).
Dan dalam riwayat Hakim disebutkan, "Barangsiapa yang berbuka puasa pada
bulan Ramadhan lantaran lupa, maka tidak wajib qadha dan tidak wajib
kifarat".
Hasan dan Mujahid berkata:
Jika ia berjima karena lupa, maka tidak ada sesuatu (sanksi) atasnya.

5.         Orang yang Meninggal dan Punya Utang Puasa
Dari Aisyah r.a. bahwasanya Nabi SAW bersabda : "Barangsiapa yang meninggal dan punya hutang puasa, hendaklah walinya berpuasa untuknya" (HR Bukhari dan Muslim).

6.         Orang yang Bepergian (Safar)
Orang yang bepergian atau sedang dalam perjalanan (safar) dibolehkan untuk
berbuka atau meneruskan puasanya, dan tidak boleh memaksakan diri untuk
berpuasa jika tidak mampu, berdasarkan hadis berikut ini:
Dari aisyah r.a. : Sesungguhnya Abu Hamzah bin Amr Al-Aslami berkata kepada Nabi SAW: Apakah aku boleh berpuasa di dalam safar? - dan ia seorang yang banyak melakukan puasa. Maka beliau bersabda:"Jika engkau ingin berpuasa maka berpuasalah, dan jika engkau ingin berbuka, maka berbukalah" (HR Bukhari).
Dari Ibnu Abbas r.a. : Sesungguhnya Rasulullah SAW keluar menuju ke Makkah di dalam bulan Ramadhan dan beliau berpuasa, sehingga - ketika – beliau sampai di Kadid, beliau berbuka, maka para manusia pun - ikut - berbuka"(Hr Bukhari).
Dari Jabir bib Abdullah, ia berkata:Pernah Rasulullah SAW bersafar, maka
beliau melihat kerumunan dan seorang laki-laki sungguh-sungguh dinaungi
atasnya, maka beliau bertanya, "Apa ini?" Mereka menjawab, "Orang yang
puasa". Maka beliau bersabda, "Bukanlah suatu kebaikan berpuasa dalam safar" (HR Bukhari).
Rasulullah memperingatkan bagi orang-orang yang berpuasa dalam perjalanan,
bahwa mereka tidak boleh saling mencela dengan orang yang berbuka puasa.
Dari Anas bin Malik, ia berkata: "Kami pernah bersafar bersama Nabi SAW maka orang yang berpuasa tidak mencela orang yang berbuka, dan sebaliknya orang yang berbuka tidak mencela orang yang berpuasa" (HR Bukhari).

Hal-hal Yang Membatalkan Puasa Berdasarkan sunnah Rasululah, hal-hal yang membatalkan puasa pada dasarnya
dibagi dalam dua kategori:
a.         yang menyebabkan wajib qadha, dan
b.         yang mewajibkan qadha dan kifarat.

A.        Yang Hanya Menyebabkan Wajib Qadha

1.         Makan dan minum dengan sengaja
Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa lupa ketika berpuasa, lalu makan atau minum, maka hendaknya puasanya itu dia teruskan sampai selesai. Karena Allah sesungguhnya telah memberinya makan dan minum". Dan menurut lafadz lain:"Hal itu tak lain adalah rezeki yang Allah anugerahkan kepadanya, tanpa berkewajiban meng-qadha puasanya". Dan ada pula lafaz lain:" Barangsiapa berbuka puasa karena lupa, maka dia tidak wajib qadha, maupun kifarat" (HR Jamaah kecuali An-Nasai). 
At-Tirmidzi berkata, "Menurut kebanyakan para ulama, hadis ini patut diamalkan". Dan Demikian pula kata Asy-Syafii, Sufyan Ats-tsauri, Ahmad dan Ishaq
Ronowibowo.abatasa
Share this article :

Poskan Komentar

Sesungguhnya telah kami turunkan kepada kalian sebuah kitab yang didalamnya terdapat sebab – sebab kemuliaan bagi kalian, maka apakah kalian tidak memahaminya “ ( Qs Al Anbiyaa’ : 10 )
 
Support : Google | Bing | Herbal Kita
Copyright © 2011. Cara Islam - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Cara Islam